Valentina Maya Sari: Memimpin dari Balik Layar, Membangun Institusi yang Tak Bergantung pada Satu Orang

Di balik nama besar VTC Group—yang menaungi Val The Consultant, Premium Nanny, PNPRO Bali, VALivingBali, dan Valove—ada satu cerita sederhana yang menjadi titik awal semuanya: seorang ibu yang kesulitan menemukan orang yang tepat untuk membantu rumah tangganya.

Dari situlah, pada 2012, Valentina Maya Sari mendirikan Val The Consultant di Surabaya.

Masalah Pribadi yang Menjadi Panggilan

Sebelum terjun ke industri jasa rumah tangga, Valentina lebih dulu berkecimpung di sektor keuangan. Pengalaman itu membentuk caranya berpikir sebagai pengusaha—lewat sistem, manajemen risiko, dan akuntabilitas jangka panjang.

Namun menjadi seorang ibu mengenalkannya pada persoalan yang jauh lebih personal: bagaimana memercayakan seseorang untuk masuk ke ruang privat keluarga, mengasuh anak, dan menjadi bagian dari keseharian rumah tangga.

Bagi Valentina, ini bukan sekadar mencocokkan CV dengan lowongan. Ini soal kepercayaan —dan kepercayaan itulah yang kemudian ia jadikan fondasi Val The Consultant.

Dari Agensi Konvensional Menuju Human Capital

Valentina percaya pekerja rumah tangga tidak seharusnya sekadar “dikirim” ke pemberi kerja. Mereka perlu direkrut dengan cermat, dinilai, dipersiapkan, dilatih, dan didampingi sepanjang perjalanan profesional mereka.

Prinsip ini membawa VTC Group pada gagasan yang ia sebut domestic human capital —cara pandang bahwa keterampilan bisa dikembangkan, sikap profesional bisa dilatih, dan karier bisa berjenjang. Seorang nanny bisa berkembang menjadi tenaga childcare yang lebih ahli. Seorang asisten rumah tangga bisa naik kelas menjadi home specialist profesional.

Filosofi ini pula yang mendorong lahirnya beragam brand di bawah VTC Group: Val The Consultant untuk pasar tenaga kerja rumah tangga yang lebih luas, Premium Nanny untuk segmen nanny yang lebih terkurasi, PNPRO Bali sebagai lini nanny profesional tertinggi, Valove untuk home specialist dan layanan rumah premium, hingga VALivingBali yang merangkul kebutuhan keluarga ekspatriat dan gaya hidup premium di Bali.

Pelajaran dari Masa-Masa Sulit

Perjalanan VTC Group bukan tanpa ujian. Sebuah insiden yang sempat menjadi sorotan publik pada 2024, yang melibatkan pekerja yang ditempatkan melalui Val The Consultant, menjadi salah satu momen tersulit dalam sejarah perusahaan.

Bagi Valentina, insiden itu menegaskan satu pelajaran penting: kepercayaan tidak bisa hanya bersandar pada niat baik—kepercayaan butuh sistem.

Sejak saat itu, VTC Group memperkuat proses screening, verifikasi, asesmen psikologis dan perilaku, pelatihan, kesadaran keselamatan, hingga tata kelola pasca-penempatan. Penerapan standar manajemen mutu ISO 9001:2015 menjadi bagian dari komitmen ini.

“Kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan lewat merayakan pertumbuhan,” begitu kira-kira prinsip yang ia pegang, “tapi juga lewat apa yang diubah setelah sesuatu berjalan salah.”

Gaya Kepemimpinan: Dari Founder-Operator Menuju Founder-Architect

Selama lebih dari satu dekade, gaya kepemimpinan Valentina dibentuk oleh keterlibatan langsung. Ia turun tangan sendiri menyelesaikan masalah operasional, memutuskan hal-hal teknis, dan hadir di hampir setiap lini bisnis yang ia bangun. Pendekatan ini masuk akal di masa awal—ketika organisasi masih kecil dan setiap keputusan menentukan arah perusahaan.

Namun seiring VTC Group tumbuh menjadi ekosistem multi-brand dengan operasional di Jakarta, Surabaya, Tangerang, Bali, dan Medan, gaya kepemimpinan yang sama justru menjadi titik rawan. Sebuah organisasi yang terlalu bergantung pada kehadiran satu orang, bagi Valentina, adalah organisasi yang rapuh—bukan institusi.

Dari sinilah ia mulai secara sadar bertransisi dari peran Founder-Operator menjadi Founder-Architect. Alih-alih terus menjadi pengambil keputusan di setiap lini, ia mengalihkan energinya untuk merancang: struktur organisasi, jenjang kepemimpinan, standar kerja, budaya perusahaan, sistem teknologi, hingga arah bisnis-bisnis baru.

Perubahan ini menuntut sesuatu yang tidak mudah bagi kebanyakan founder: melepaskan kendali langsung, dan mempercayakannya pada sistem serta pemimpin-pemimpin yang ia bangun sendiri. Baginya, ini bukan soal menjadi kurang terlibat, melainkan soal memastikan organisasi bisa terus berjalan dengan standar yang sama—dengan atau tanpa kehadirannya secara langsung. Itulah yang ia maksud dengan institusionalisasi.

“Perusahaan yang bertahan karena foundernya selalu ada, itu masih bergantung pada individu. Perusahaan yang tetap menjaga nilai, kualitas, dan arahnya tanpa campur tangan terus-menerus dari founder—itu baru bisa disebut institusi.” — Valentina Maya Sari, Founder & Group CEO VTC Group

Teknologi Tanpa Kehilangan Sisi Manusiawi

Teknologi kini menjadi bagian penting dari perkembangan VTC Group—mulai dari rekrutmen digital, basis data tenaga kerja, sistem kontrol kualitas, hingga pembelajaran daring. Namun Valentina menegaskan teknologi tidak boleh menghilangkan unsur manusia dalam layanan ini.

Anak, orang tua, pengasuh, pekerja, dan rumah tangga, katanya, tidak bisa sepenuhnya direduksi menjadi data. Teknologi memperkuat sistem, tetapi hubungan tetap dibangun oleh penilaian manusia.

Membangun Apa yang Belum Ada

Arah VTC Group ke depan diringkas Valentina dalam satu filosofi sederhana: Build What’s Missing —bangun apa yang belum ada.

Ketika keluarga butuh rasa aman yang lebih besar, bangun sistem screening yang lebih baik. Ketika pekerja butuh pengembangan, bangun pelatihan. Ketika rumah tangga premium butuh standar layanan yang lebih tinggi, bangun layanan khusus. Dan ketika organisasi menemukan kelemahan pada dirinya sendiri, bangun sesuatu yang lebih kuat.

Lebih dari satu dekade sejak Val The Consultant berdiri di Surabaya, kisah Valentina Maya Sari kini bukan lagi sekadar kisah membangun satu perusahaan—melainkan kisah membangun infrastruktur bagi sebuah industri yang selama ini berjalan secara informal.

Tentang Valentina Maya Sari

Valentina Maya Sari adalah Founder & Group CEO VTC Group, ekosistem bisnis Indonesia yang berfokus pada domestic human capital, childcare profesional, layanan keluarga, home management, dan gaya hidup premium. Ia mendirikan Val The Consultant di Surabaya pada 2012, dan sejak itu mengembangkan portofolio brand terspesialisasi termasuk Premium Nanny, PNPRO Bali, VALivingBali, dan Valove. Filosofi kepemimpinannya berpijak pada tiga kata: People, Purpose, Progress.